Minggu, 07 Juli 2024

KOPI DAN 1000 MAKNA

Share it Please

 KOPI DAN 1000 MAKNA



" AKU INGIN "

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(1989)

(Sapardi Djoko Damono)

        2 Juli matahari menjelang bertukar tempat dengan bulan dan bintang, aku menikmati pahitnya kopi dengan memikirkan arti dari puisi karya bapak Sapardi Djoko Damono yang judul nya " Aku Ingin ". Puisi yang makna sebenarnya adalah kesederhanaan dalam mencintai, tapi karena isi puisi yang rasa ku tidak dapat di bilang sederhana, ya dengan kosa kata yang begitu tinggi dan sulit bagi banyak orang ini bukan hal sederhana namun, inilah bentuk sederhana yang pak Sapardi tuangkan di karyanya.

    Hampir 4 tahun setelah aku merasakan rasa sakit yang ku sebut lebih dasyat dari ledakan bom atom Nagasaki dan Hiroshima, mungkin aku sudah puli dari sakitnya namun mengapa hingga detik ini aku seperti tidak dapat merasakan nyatanya cinta, melayangnya mencintai. Apa aku sedang mati rasa?, atau aku tidak akan bisa lagi mencintai seperti waktu itu?, aku bingung dengan semua itu bahkan kopi yang ku minum pun tidak dapat memberikan arti dari semua itu. Setahun ini sebenarnya aku sudah berusaha dekat dengan beberapa orang, namun aku memilih pergi sebelum memulai karena rasanya tidak layak mereka menanggung dendam yang ku bawah, pun aku tidak dapat merasakan sama atau lebih dari selain hari itu. Aku merasa di hantui terus dengan keadaan ini, merasa semua kejadian tersebut berputar di kepala ku tanpa ada pelabuhan untuk mereka bersandar. Aku sudah berusaha mengisi kesibukan dengan mengikuti berbagai kegiatan di kampus dan singkat cerita hingga aku berada di atas puncak organisasi, namun hanya badan dan pikiran ku yang sibuk tidak dengan hatiku ternyata dia hanya sibuk terus terbayang masa itu. Hingga titik ampas kopi ku terlihat, aku tidak mampu mengartikan semua isi pikiranku ini. Disaat mejelang lelap dalam tidurku keras bunyi HP membuatku terbangun dari terlelap nya tidur ternyata teman ku Hasan memintah tolong untuk menjemputnya di bandara esok pagi, karena dia baru balik dari daerahnya. 

    Aku bangun pagi sekali karena semalam Hasan mengganggu tidur lelapku memintah tolong menjemputnya, karena sekarang sudah jam 07.00 aku harus bergegas ke bandara menjemputnya, semalam dia berpesan pesawatnya tiba pukul 08.00. Menunggu nya keluar dari ruang tunggu kedatangan membuatku lapar, " hei Prama " teriak seseorang memanggil nama ku. Aku pikir itu Hasan yang memanggilku niatnya mau ku marahin karena aku menunggunya hingga kelaparan tidak kunjung keluar, ternyata dari kejauhan perempuan datang menghampiriku dan dia lah yang memanggilku. Dila namanya aku mengenalnya karena kita sering agenda bersama begitupun dengan hasan, " hei Dila ngapain kamu disini? " tanyaku penasaran, " aku baru balik dari daerahku " jawabnya. Beberapa waktu kemudian Hasan bergabung dengan kami disana kami mengobrol singkat karena rasanya lama kita tidak berjumpa. Setelah itu kami berpisah dan sepanjang perjalanan hingga menuju tempat makan aku hanya mengomel pada Hasan karena dia membuat ku menunggu hingga kelaparan. Tapi begitulah persahabatan kami semudah itu dia merayuku hanya dengan meneraktir makan, ya karena memang itu yang sedang ku inginkan saat ini. Di tempat makan kami banyak berbincang tentang hal baru yang ku alami selama dia meninggalkanku balik ke daerah nya, Hingga Hasan memantik dengan hal yang tidak aku duga padahal topik pembicaraan kami bukan kesana arahnya. " eh Dila beruba ya, tambah cantik dan lembut gaya bicaranya iya kan Prama? " Hasan yang tiba tiba memantik, aku berfikir sejenak tentang maksud pertanyaan nya, kemana arah pembicaraan ini " iya terus kenapa? " jawabku. Sepertinya aku paham arah dia membahas ini karena kita lama berteman jadinya mudah saja membaca pikirannya, " ya kau kan lama tu sendiri aja, takut ku nanti malah karatan kau nya coba deketin aja dengar - dengar baru putus dia " hasan melanjutkan. Aku tidak menggubris pembahasan Hasan itu hingga kita balik, " eh Prama dah coba di pikir lagi " Hasan mengingatkan kembali.

    Malam itu aku terfikir tentang dorongan kata - kata dari hasan tentang apakah aku coba saja ya?, namun di lain sisi aku berfikir takut bahwa aku yang nantinya tidak dapat mencintai dengan benar, tidak tahu cinta itu seperti apa wajar nya, tapi mungkin dengan ini aku bisa terlepas dari jeratan masa lalu yang begitu membebani. Semua itu berputar bagai biang lala yang tidak berhenti berputar, ah geram rasa nya aku dengan Hasan dia selalu mampu membuatku  bimbang, tidak di organisasi tapi di perasaan juga dia mampu membuatku dilemah. Mata seperti tidak ingin terpejam karena kebimbangan berputar tanpa henti di fikiranku, aku terus berusaha melelapkan diriku hingga aku merasa melayang dan hilang.

    Malam tadi aku terlalu bergelut dengan fikiranku sendiri akhirnya aku jadi terlambat kuliah, lagi - lagi ini salah Hasan karena membuatku  jadi keras memikirkan kata - kata nya membuat aku telat ber kuliah, ya memang faktanya salah dia. Kalau begini rasa nya jadi lapar terus, ingin cepat - cepat ku putar jam dinding agar kelas ku cepat selesai dan aku bergegas makan. Sehabis jam kelas aku menuju tempat makan yang hari - hari makan ku disana, pun aku janjian dengan Hasan ketemu untuk makan bareng disana sekalian mau ku luapkan amarah padanya karena membuatku tidak bisa tidur semalam. Sesampai di tempat makan kami berdua kebingungan harus duduk dimana karena semua meja sudah ada yang mengisi, namun Hasan tiba - tiba menarikku dan mengatakan ada yang masi kosong. Betapa terkejutnya aku tempat kosong yang di maksudnya adalah duduk bersama Dila dan temannya, aku tau maksud manusia satu ini pasti akan ada hal aneh yang akan dia perbuat. " Dil kita berdua gabung ya, endak ada tempat lagi? " tanya Hasan pada Dila, pasti nya Dila akan mengiyahkan soal ini sudah kebaca arah bergerak si Hasan ini tapi mau bagaimana lagi memang nyatanya tidak ada tempat lagi bagi kita berdua. Sembari menikmati makanan kami masing - masing kita menyisipkan obrolan agar suasana tidak sunyi seperti layaknya bermusuhan aja kan. " Dila katanya kamu baru putus ya?" tanya Hasan mendadak, " hahaha kok pertanyaanmu random banget San, iya bener " jawab Dila. Aku terkejut dengan tiba - tiba ada percakapan itu seperti aku di tampar tanpa bersiap siap, aku menatap geram ke hadapan Hasan dan dia hanya tersenyum. Aku banyak menghindar dari percakapan yang mengarah kesana hingga kami menyelesaikan makan, tak lama Dila dan teman nya berpamitan karena harus melanjutkan kelas nya lagi. " apa seh San jangan kaget - kaget gitu lah" ungkapku dengan sikap Hasan, " eleh udah endak usah kelamaan gas " jawab nya. Setelah itu kami balik karena diriku akan ada pertemuan dengan orang sore ini.

    Sore itu aku berkendara tanpa melihat, karena isi kepalaku hanya terfikir tentang kejadian kejadian kemarin, tentang kata - kata Hasan yang terus terbesit, apakah ini semua jalannya?, apakah aku harus mencoba kembali?. Lelah aku memikirkan itu semua akhirnya sehabis aku bertemu seseorang aku memutuskan untuk mampir ke alun - alun kidul tempatnya orang menikmati kesendiriannya atau berpasangan, karena disana banyak juga penjual jajanan jadi enak saja tempatnya. Saat aku ingin mencari tempat kosong di lapangan yang penuh dengan manusia yang sedang menikmati sore menunggu matahari bertukar tempat dengan bulan ada suara yang jelas dari kanan memanggil namaku. Alangkah terkejutnya aku ternyata yang memanggilku adalah Dila yang entah sedang apa dia sendiri di sini, fikiranku mulai bergerak memikirkan apakah alam semudah ini merestui?, namun ini semudah seperti dulu semua jalan layaknya Tol yang bebas kendala namun fakta ujungnya harus di bayar dengan mahal. Aku tetap bergerak menghampirinya karena tidak mungkin tidak ku hampiri, nanti seperti aku sombong sekali sama teman, " boleh aku duduk sini Dil?" tanya ku. Kami duduk berdampingan membahas sana sini, disitu aku tahu dia sedang menikmati suasana saja. " Lah sendiri aja Dil, btw bukannya kamu dah lama ya dengan pacar kamu kok bisa putus?" tanyaku, aku bingung mengapa bibirku tidak memintah izin pada otakku untuk mengeluarkan kata kata itu, seperti bibirku memiliki pikirannya sendiri. Dila bercerita tentang hubungannya yang hampir beranjak 2 tahun berjalan, namun semua pupus karena pacar nya mendua di belakangnya dan Dila sendiri mengetahui fakta itu secara langsung. Disana aku cuma bisa memberihkan kata - kata untuk menenangkan nya saja karena aku sendiri bingung harus bersikap seperti apa, aku saja sudah lama tidak berpasangan. Kami berbincang kesana kemari, intinya aku hanya berusaha menghiburnya saja agar dia tidak lagi terfikirkan, walau konsep cerita nya berbeda denganku namun rasanya akan sama saja dengan kejadian ku. Hari mulai gelap kami berbincang hingga lupa dengan waktu, Dila ijin untuk balik dan sebagai laki - laki yang gagah perkasa aku tetap menawari mengantar pulang karena kos ku dengan dia searah. Aku mengiringi nya hingga tiba di kos " makasih ya Prama sudah mau nganterin maaf ngerepotin " ungkap Dila, " sama - sama  Dil santai kok, yaudah aku pamit duluan ya " jawabku. Di jalan menuju kembali ke kos aku kembali terfikir, rasa nya aku menikmati obrolan yang terjadi tadi seperti tatapanku tidak pergi dari menatapnya, walau aku sebenarnya ragu ingin mencoba namun mungkin ini jalannya.

    Hari itu sabtu aku coba memberanikan diri untuk mengajaknya keluar kesalah satu kafe yang biasa aku datangi karena disana selain makanannya enak suasanya juga sahdu menurutku. Dering HP ku menunggu notif memanggil ku di angkatnya, tidak memiliki ekspetasi besar aku akan hal tersebut, fikirku kalau dia tidak mau juga tidak apa - apa bagiku dan akan ku urungkan rencanaku. " Assalamualaikum " Dila mengangkat telfon, " Waalaikumsallam, Dil sibuk endak aku mau ajak kamu keluar ke kafe enak nih?" tanyaku. Keraguan terngiang di benakku fikirku mana mungkin dia mau sedangkan kami saja tidak pernah komunikasi secara intim, " eh tumben Prama, yaudah yuk aku juga lagi males di kosan". Mendengar jawabannya membuatku terkejut ekspetasi kepalaku terpatahkan, ya memang benar tidak selamanya hayalan menjadi nyata. Aku mulai bergegas bersiap diri dan menuju tempatnya untuk ku jemput, selama di kendaraan kami hanya diam karena aku sendiri bingung apa yang perlu aku tanyakan. Sesampainya di kafe tujuan aku sebenarnya ingin memantik dengan tema obrolan agar kami bisa berbincang, tapi aku terkejut Dila mendahului bertanya padaku, " tumben Prama kamu ngajak aku keluar? " tanya Dila padaku. Aku bingung alasan apa yang ku harus gunakan agar menjawab pertanyaan nya tanpa membuat dia risi akan adanya diriku, " aku endak perna keluar malam mingguan karena bingung mau keluar sama siapa, dan aku tertarik sama obrolan kita kemarin makanya aku ngajak kamu keluar pengen ngobrol dan diskusi saja " jawabku, yang aku pun bingung harus berkalimat seperti apa untuk menjawabnya. Aku membuat topik perbincangan yang mana agar kita saling mengenal satu sama lain, namun tanpa dia sadari maksudku. sebelum pulang aku bertanya pada Dila tentang pertemuan kita ini apakah dia merasa risi atau senang dengan obrolan tadi, ya tujuanku pengen tau respon dia tentang pertemuan ini sebenarnya, " Dil bagaimana obrolan kita tadi?, kamu risi atau bagaimana? " tanyaku. Dalam angan ku kalau dia menjawab risi maka sepertinya memang belum saat nya untuk mengejar cinta kembali, " endak risi kok, malah senang senang aja aku ngobrol sama kamu seru " jawab Dila. Mendadak aku tersenyum tipis, lagi dan lagi bibirku ini tidak mau bertanya dulu pada pikiran apakah dia boleh tersenyum atau tidak, layaknya seperti aku salah tingkah karena respon itu.

    Hari - hari berikut nya aku mencoba memberanihkan diri untuk berkomunikasi melalui WA ternyata dia merespon dengan baik, akhirnya hari hari ku lalui untuk mencoba mengenalnya dan ingin lebih banyak tahu tentang nya. Aku pun sering mengajak nya menghabisakan waktu berdua, seperti aku mengajaknya bermotor mengelilingi jogja alasanku saat itu ingin membelikannya es cream, tapi sebenarnya tempat es cream nya tidak jauh dari kos nya namun aku mencari alasan saja untuk bisa berkeliling dengannya. Hari demi hari, minggu demi minggu ku habiskan mencari tahu tentangnya, berkomunikasi dengannya, Aku merasa seperti bisa merasakan perasaan yang telah hilang selama bertahun - tahun ini. Apakah aku sudah bisa merasakan cinta lagi?, ataukah ini hanya sekedar hiburan semata dari tuhan untukku?, atau ini atau itu semua tanya terngiang di benakku aku menjadi bingung sendiri dengan perasaan ini, bahagia kembali aku rasakan namun kebimbangan pun mendampingi. Aku takut jalan yang mudah ini akan berakhir sama seperti dahulu mengakibatkan luka yang parah, mungkin kalau akhir cerita ini memang luka aku yakin ini akan menjadi luka yang begitu dalam dan lebar, layaknya penyakit AIDS yang hingga detik ini belum di temukan obat nya. Aku selalu berdoa pada tiap sujudku " Tuhan kalau memang dia obat yang engkau datangkan padaku maka luruskan dia padaku, namun jika dia bukanlah obat melainkan luka belokkan jalannya agar dia tidak sampai padaku ". Aku menikmati semua alur hidupku prinsipku adalah " Jadikan masa lalu sebagai batu loncatan, syukuri Alhamdullilah hari ini, jangan fikirkan hari esok ", itulah yang membuatku berani melangkahkan diri untuk mencoba karena aku percaya pada Tuhanku tidak ada yang tidak mungkin bagi di dunia ini.


Btw ini belum ending ya kawan kawan nanti masi ada lanjutan nya.

Tunggu aja part 2 nya, maka nya terus update di Blog Cerita QT.

Jangan lupa kritiknya di kolom komentar :)

Woke terima kasih........... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogroll

About