Prama diriku biasa di panggil kawan kawan di sekolah, aku seorang anak SMK di salah satu kota kecil di ujung timur nusantara kotaku biasa di juluki kota dolar. Ya julukan yang keren untuk kota kecil ini itu karena kotaku menjadi tempat perusahaan besar di negeri ini. Karena aku anak SMK Kesehatan aku juga aktif di relawan Palang Merah.
Pagi 17 agustus aku harus bangun pagi - pagi sekali karena aku harus berangkat untuk mengikuti upacara bendera di lapangan kantor bupati. Biasanya aku males bangun pagi sekolah saja aku selalu kesiangan tapi kalau untuk kegiatan aku selalu maksain untuk bangun, ya walau harus mintah ibu ku bangunin juga sih. Aku selalu merasa senang kalau mengikuti kegiatan di relawan selain senang bisa membantu sesama aku pun senang bisa ketemu teman - teman relawan lain.
Setibanya di lokasi upacara, aku dan teman - teman lain langsung beranjak untuk segera menyesuaikan barisan karena beberapa menit lagi upacara di mulai, namun pandangan mataku teralihkan melihat seseorang yang asing tak pernah ku jumpai dan dia menggunakan seragam relawan yang sama dengan kami. Aku penasaran siapa dia yang baru ku lihat ikut berbaris dengan kami, mataku tak pindah dari memandangnya. Setelah upacara selesai aku tanya pada seniorku yang ku yakin dia pasti tau hal hal di Palang Merah tempatku, karena dia yang paling senior disini. Setelah ku telusuri ternyata dia senior Palang Merah juga namun lama tidak aktif karena harus menyelesaikan kuliah nya menjadi seorang bidan dan namanya Dwi.
Di sekolah aku terus terbayang Dwi penasaran dengan bagaimana sosok nya, ingin banyak tau tentang dia. Yang ku pikirkan saat ini hanya ingin cepat - cepat mendengar bel pulang sekolah untuk ke markas Palang Merah mencari tahu tentang dia. Selama jam sekolah aku terngiang terus dengan berbagai pertanyaan tentang dia, tak lama aku mendengar suara bel berbunyi tanpa fikir panjang aku langsung bergegas merangkul ranselku dan langsung beranjak menuju markas Palang Merah.
Setiba nya di markas aku langsung membuka pintu, " Assalamualikum" teriakku pada teman - teman disana, dan aku terdiam seketika, " eh kenapa kau diam " tanya teman- teman ku terheran denganku yang terdiam hampir semenit aku terkaku. Aku tercengang ternyata disitu ada Dwi yang tidak pernah ku lihat dia di markas, jantungku tiba tiba berdetak tak beraturan seperti mau pecah rasanya. Aku berusaha tenang beranjak perlahan menuju mereka dan duduk tanpa memperlihatkan kegugupanku. Erwin seniorku yang aku tanya soal Dwi tiba - tiba langsung memperkenalkanku sama Dwi " Wi ini Prama kemarin katanya mau kenalan sama kamu tu". Kaget seperti semua mengerti isi pikiranku aku kira jalanku mencari tahu tentangnya akan sulit ternyata semudah seperti bolos sekolah.
Hari itu aku banyak mengobrol dengannya hampir semua tentangnya ku tanya, hingga menjelang magrib bahkan aku pulang di marahin ibu ku karena kesorean, namun tidak sia - sia menuruku karena aku banyak bisa berbincang dengan dia. Hari ini minggu jam satu siang aku beranjak menuju markas dengan harapan dapat bertemu dia disana, tapi saat sampe di sana aku tidak melihat dia sedikit kecewa karena ku pikir dia akan ada di markas. Aku tanya pada kakak senior yang di markas " Tumben tidak ada Dwi? ", " Dwi kan memang jarang kesini, dia kesini kalau ada kegiatan atau kalau pengen aj" jawab Erwin kakak senior ku. Aku jadi berfikir bagaimana cara nya aku bisa ketemu dengan dia kalau menunggu kegiatan aku pun tidak tau kapan lagi ada, atau aku buat aja kegiatan sendiri ngajak mereka. Belum selesai aku memikirkan solusi dari ideku ini kakak Yani staf markas turun dari lantai dua dan ngajak makan - makan katanya ada yang ngundang kita, timbang aku pusing belum nemu solusi ideku aku ikut aja lumayan lagi lapar juga karena tadi pergi lupa makan mana lagi zonk tidak sesuai bayanganku.
Tiba di lokasi tempat makan - makan aku terheran tempat siapa kita datangi karena ini lokasinya di TNI Angkatan Laut, " kak ini tempat siapa, anak Palang Merah kok aku endak pernah tau ya" tanyaku pada kak yani. Sembari turun dari mobil kak Yani menjawab pertanyaanku dan seketika aku terkejut lagi ternyata bayanganku tidak gagal " kita di rumahnya Dwi mama nya masak besar manggil kita, kan kakak kenal baik sama mama nya Dwi" jawab kak Yani. Aku hanya tersenyum hingga masuk kerumahnya entah apa lagi cara yang bisa ku lakukan untuk menggambarkan perasaan bahagiaku ini, aku berfikir apakah semulus ini jalanku untuk mengejarnya. Aku terbuaih dengan suasana berbincang dengan Dwi maupun orang tuanya, tertawa akan hal yang orang lain tidak anggap lucu tapi aku tidak perduli dengan itu semua di pikiranku hanya menikmati waktu ini dengan sebaik mungkin, hingga aku terlena hari sudah larut hingga malam tiba aku teringat harus pulang atau kalau tidak bisa di marah ibuku habis habisan.
Setelah hari itu hari demi hari ku jalani dengan semangat dan bahagia terlihat aku tidak lagi waras karena senyum dimana mana, aku pun heran mengapa aku begini apakah ini yang katanya cinta. Namun aku tidak berani mengungkap kan rasa ini kupendam sendiri takut saat perasaan ini aku keluarkan malah membuatku jauh dengannya " ya kalau keterima tapi kalau di tolak malah pergi dia" pikirku. Aku berusaha mencari solusi isi pikiranku pada hari itu kegiatan apa yang bisa ku buat untuk bisa ketemu dia, dan rekreasi jawabannya. sepulang sekolah aku bergegas ke markas untuk menyampaikan ideku ke kak Yani karena dia staf di markas jadi pasti bisa menggerakkan teman - teman lain pikirku. Ideku di terima dan minggu berikutnya saat libur sekolah aku dan teman - teman markas berangkat rekreasi, sesuai rencana juga Dwi ikut dalam kegiatan itu di perjalanan aku sudah mengatur duduk ku agar bisa bersebelahan dengan dia. Kami banyak bercerita selama perjalanan, banyak membahas ini itu karena aku masi SMK aku banyak aja tanya tentang dunia kesehatan mahasiswa dulu aku tidak ingat entah apa yang dia ceritahkan tapi aku hanya memandang wajahnya dengan kebimbangan di dalam pikirku " apa aku ungkapkan aja ya isi hatiku, ah tapi jangan lah aku tidak mau moment ini hilang". Mobil yang kami gunakan rekreasi itu mobil yang pintu samping nya di buka dengan cara di geser, ya namanya anak remaja aku paling senang duduk di samping dengan pintu posisi terbuka, Dwi duduk di belakangku dengan posisi bangkunya lebih tinggi dengan aku. Posisi kami duduk depan belakang dan kepalaku terasa di penggang aku berbalik kepala dan kulihat dia yang memegang dan mengusap - usap kepalaku selama perjalanan itu.
Hari itu adalah momen yang sangat membahagiakan bagiku rasanya ingin terus di momen itu. Tiga bulan kemudian aku lulus dari SMK, dan aku merasa bisa fokus mengejar dia hari demi hari minggu demi minggu aku jalani dengan terus membuat rencana agar bisa terus dekat dengan dia. Hari itu di rumah aku di ajak ngobrol dengan ibu dan ayah ku tentang masa depanku apakah aku kuliah atau kerja. Aku memperhitungkan dengan matang semua itu, kalau aku kuliah akan jauh dari dia, tapi kalau aku kerja bagaimana dengan cita citaku yang ingin menjadi seorang bupati. Matematika ku berjalan di pikiran, walau aku jelek matematika ku paksa berfikir dengan baik hingga aku akhirnya menemukan solusi yang tepat dan di dukung orang tuaku " bu pak aku mau kuliah di jogja". Kuliah di jogja adalah impianku karena itu kota dengan julukan kota pelajar dan aku ingin mengejar cita cita ku berawal dari sana, pikirku aku harus berjuang mengejar sarjanaku dan setelah itu aku balik ke kota ini untuk memberanihkan diriku untuk melamarnya.
Sebulan kemudian aku berpamitan dengan teman - teman markas ke kak Yani, kak Erwin, dan yang lain pun aku berpamitan tak lupa dengan Dwi. Berat rasanya seperti tidak ingin kemana - mana, tidak ingin pergi dari kota ini, tidak ingin jauh dari dia namun aku sadar ini semua perjuanganku untuk bersama dia selamanya. Hari keberangkatanku pun tiba di bandara aku dihantarkan oleh orang tua ku dan semua teman - temanku haru terjadi hari itu, air mataku menetes seperti tak terbendung aku berat meninggalkan mereka, aku berat meninggalkan orang tuaku, aku berat meninggalkan Dwi. Langkah demi langkah ku menuju pesawat menggambarkan jumlah tetesan air mata perpisahan ini, Di dalam pesawat aku terus terpikir beratnya perpisahan ini namun aku mencoba meyakinkan pikiranku bahwa ini yang terbaik, hingga akhirnya aku tiba di Jogja.
Satu bulan pertama aku berusaha beradaptasi dengan keadaan di jogja, dengan kebiasaan yang ada disini. Waktu itu bulan kedua tepat bulan Desember aku di jogja dengan semangat mengejar pendidikan dan hal hal yang aku ingin kejar nantinya, menikmati pagi awal bulan itu HP ku berdering ternyata WA masuk bertuliskan Dwi, senang tak terkira orang yang aku ingin perjuangkan menanyakan kabarku. Komunikasi kita cukup panjang hingga harus terpotong karena dia harus lanjut bekerja, ku nikmati kopi pagi itu rasa nya sangat nikmat berbeda dengan kopi di hari - hari sebelumnya. Namun ku kira semua perjalanan mudahku dulu hingga saat aku di jogja mengejarnya akan selalu mulus tak terhadang, ternyata itu semua beruba. Tiga minggu setelah dia mengubungiku aku di telfon kak Yani dengan video call kita begitu senang saling komunikasi walau jarak memisahkan, tak lama kak yani tiba - tiba terdiam, pikir kak Yani diam karena suara bising di HP yang terdengar pikir ku dia di tempat ramai " Prama aku mau liatin sesuatu " tanya kak Yani, " apa kak ada hal baru disana kah?" tanyaku dengan penasaran.
Lalu saat kak Yani membalikkan kamera aku tercengan terdiam tak berdaya, bulu kuduk ku berdiri, badan ku gemetar seketika. Pada saat itu aku sedang nongkrong bersama teman - teman kampusku, video call ku matikan aku langsung berdiri dan pamit balik ke kos an ku. Di kos aku langsung berbaring di kasurku memakai heatset dan memutar semua lagu yang ku punya. Satu demi satu air mataku menetes mengingat isi video call tadi yang mana suara gemuru yang tadi adalah gemuru suara pernikahan Dwi dan calon suaminya, hancur rasanya semua rencana yang ku buat mungkin ini ledakan yang lebih dasyat di banding bom atom di Hiroshima maupun Nagasaki. Aku berusaha memejamkan mataku dengan derasnya air mengalir dari mataku dan berharap bangun nanti semua ini adalah mimpi.
Setahun berlalu dari kejadian itu aku pikir pagi itu aku bangun semua adalah mimpi ternyata itu lah nyatanya kehidupan yang ku terima, setahun berlalu aku merasa tak terima ini semua terjadi. Hampir tiap hari kak Yani maupun Teman - Teman disana menghubungiku tapi ku hiraukan hingga saat ini, aku tau mereka ingin menghiburku tapi tidak akan ada hiburan yang bisa membuatku tersenyum. Pikirku jahat aku Harus menjauhi teman - temanku akhirnya aku memutuskan menghubungi kak Yani untuk memintah maaf akan kejadian setahun lalu. Mungkin ini semua sudah jalanku dan aku harus terus hidup untuk tujuan lainku, " kak Yani apa kabar?" tanyaku saat telfon di angkat, " baik Prama kamu gimana?, lama endak telfon kakak" jawab kak Yani. Kami mengobro tentang ini dan itu, aku memintah maaf dan kak yani menceritahkan kejadiaan seminggu sebelum pernikahan Dwi kak Yani ternyata telah memberitahu Dwi kalau aku menyukainya Dwi kaget dan bertanya kenapa tidak memberitahunya?, kenapa baru saat dia ingin menikah baru tahu?. Kak Yani memberitahu semua alasanku karena dulu aku pernah cerita ke kak Yani alasanku kenapa tidak berani mengungkapkan. Aku pun menyesal akhirnya tidak pernah melepas rasa ini hingga aku harus merelahkan dia bersanding dengan yang lain, karena kata kak Yani Dwi pun memiliki perasaan yang sama.
Ya itu semua sudah berlalu aku terus berusaha melanjutkan hidupku mengejar semua cita cita yang ingin ku gapai. Dan dia?, Dwi sekarang sudah berkeluarga dia sudah memiliki anak cewek yang lucu, sekarang kita masi berkomunikasi namun layaknya adek dan kakak. Aku selalu berharap dapat mengulang waktu dan ingin melepas rasa ini apapun hasilnya bukan malah membawahnya hingga menjadi luka, benar kata orang penyesalan datang belakangan karena kalau di depan pasti pendaftaran.
Mungkin hari esokku akan cerah, aku harus belajar dari semua yang terjadi ini..........

Tidak ada komentar:
Posting Komentar