Minggu, 07 Juli 2024

KOPI DAN 1000 MAKNA

 KOPI DAN 1000 MAKNA



" AKU INGIN "

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(1989)

(Sapardi Djoko Damono)

        2 Juli matahari menjelang bertukar tempat dengan bulan dan bintang, aku menikmati pahitnya kopi dengan memikirkan arti dari puisi karya bapak Sapardi Djoko Damono yang judul nya " Aku Ingin ". Puisi yang makna sebenarnya adalah kesederhanaan dalam mencintai, tapi karena isi puisi yang rasa ku tidak dapat di bilang sederhana, ya dengan kosa kata yang begitu tinggi dan sulit bagi banyak orang ini bukan hal sederhana namun, inilah bentuk sederhana yang pak Sapardi tuangkan di karyanya.

    Hampir 4 tahun setelah aku merasakan rasa sakit yang ku sebut lebih dasyat dari ledakan bom atom Nagasaki dan Hiroshima, mungkin aku sudah puli dari sakitnya namun mengapa hingga detik ini aku seperti tidak dapat merasakan nyatanya cinta, melayangnya mencintai. Apa aku sedang mati rasa?, atau aku tidak akan bisa lagi mencintai seperti waktu itu?, aku bingung dengan semua itu bahkan kopi yang ku minum pun tidak dapat memberikan arti dari semua itu. Setahun ini sebenarnya aku sudah berusaha dekat dengan beberapa orang, namun aku memilih pergi sebelum memulai karena rasanya tidak layak mereka menanggung dendam yang ku bawah, pun aku tidak dapat merasakan sama atau lebih dari selain hari itu. Aku merasa di hantui terus dengan keadaan ini, merasa semua kejadian tersebut berputar di kepala ku tanpa ada pelabuhan untuk mereka bersandar. Aku sudah berusaha mengisi kesibukan dengan mengikuti berbagai kegiatan di kampus dan singkat cerita hingga aku berada di atas puncak organisasi, namun hanya badan dan pikiran ku yang sibuk tidak dengan hatiku ternyata dia hanya sibuk terus terbayang masa itu. Hingga titik ampas kopi ku terlihat, aku tidak mampu mengartikan semua isi pikiranku ini. Disaat mejelang lelap dalam tidurku keras bunyi HP membuatku terbangun dari terlelap nya tidur ternyata teman ku Hasan memintah tolong untuk menjemputnya di bandara esok pagi, karena dia baru balik dari daerahnya. 

    Aku bangun pagi sekali karena semalam Hasan mengganggu tidur lelapku memintah tolong menjemputnya, karena sekarang sudah jam 07.00 aku harus bergegas ke bandara menjemputnya, semalam dia berpesan pesawatnya tiba pukul 08.00. Menunggu nya keluar dari ruang tunggu kedatangan membuatku lapar, " hei Prama " teriak seseorang memanggil nama ku. Aku pikir itu Hasan yang memanggilku niatnya mau ku marahin karena aku menunggunya hingga kelaparan tidak kunjung keluar, ternyata dari kejauhan perempuan datang menghampiriku dan dia lah yang memanggilku. Dila namanya aku mengenalnya karena kita sering agenda bersama begitupun dengan hasan, " hei Dila ngapain kamu disini? " tanyaku penasaran, " aku baru balik dari daerahku " jawabnya. Beberapa waktu kemudian Hasan bergabung dengan kami disana kami mengobrol singkat karena rasanya lama kita tidak berjumpa. Setelah itu kami berpisah dan sepanjang perjalanan hingga menuju tempat makan aku hanya mengomel pada Hasan karena dia membuat ku menunggu hingga kelaparan. Tapi begitulah persahabatan kami semudah itu dia merayuku hanya dengan meneraktir makan, ya karena memang itu yang sedang ku inginkan saat ini. Di tempat makan kami banyak berbincang tentang hal baru yang ku alami selama dia meninggalkanku balik ke daerah nya, Hingga Hasan memantik dengan hal yang tidak aku duga padahal topik pembicaraan kami bukan kesana arahnya. " eh Dila beruba ya, tambah cantik dan lembut gaya bicaranya iya kan Prama? " Hasan yang tiba tiba memantik, aku berfikir sejenak tentang maksud pertanyaan nya, kemana arah pembicaraan ini " iya terus kenapa? " jawabku. Sepertinya aku paham arah dia membahas ini karena kita lama berteman jadinya mudah saja membaca pikirannya, " ya kau kan lama tu sendiri aja, takut ku nanti malah karatan kau nya coba deketin aja dengar - dengar baru putus dia " hasan melanjutkan. Aku tidak menggubris pembahasan Hasan itu hingga kita balik, " eh Prama dah coba di pikir lagi " Hasan mengingatkan kembali.

    Malam itu aku terfikir tentang dorongan kata - kata dari hasan tentang apakah aku coba saja ya?, namun di lain sisi aku berfikir takut bahwa aku yang nantinya tidak dapat mencintai dengan benar, tidak tahu cinta itu seperti apa wajar nya, tapi mungkin dengan ini aku bisa terlepas dari jeratan masa lalu yang begitu membebani. Semua itu berputar bagai biang lala yang tidak berhenti berputar, ah geram rasa nya aku dengan Hasan dia selalu mampu membuatku  bimbang, tidak di organisasi tapi di perasaan juga dia mampu membuatku dilemah. Mata seperti tidak ingin terpejam karena kebimbangan berputar tanpa henti di fikiranku, aku terus berusaha melelapkan diriku hingga aku merasa melayang dan hilang.

    Malam tadi aku terlalu bergelut dengan fikiranku sendiri akhirnya aku jadi terlambat kuliah, lagi - lagi ini salah Hasan karena membuatku  jadi keras memikirkan kata - kata nya membuat aku telat ber kuliah, ya memang faktanya salah dia. Kalau begini rasa nya jadi lapar terus, ingin cepat - cepat ku putar jam dinding agar kelas ku cepat selesai dan aku bergegas makan. Sehabis jam kelas aku menuju tempat makan yang hari - hari makan ku disana, pun aku janjian dengan Hasan ketemu untuk makan bareng disana sekalian mau ku luapkan amarah padanya karena membuatku tidak bisa tidur semalam. Sesampai di tempat makan kami berdua kebingungan harus duduk dimana karena semua meja sudah ada yang mengisi, namun Hasan tiba - tiba menarikku dan mengatakan ada yang masi kosong. Betapa terkejutnya aku tempat kosong yang di maksudnya adalah duduk bersama Dila dan temannya, aku tau maksud manusia satu ini pasti akan ada hal aneh yang akan dia perbuat. " Dil kita berdua gabung ya, endak ada tempat lagi? " tanya Hasan pada Dila, pasti nya Dila akan mengiyahkan soal ini sudah kebaca arah bergerak si Hasan ini tapi mau bagaimana lagi memang nyatanya tidak ada tempat lagi bagi kita berdua. Sembari menikmati makanan kami masing - masing kita menyisipkan obrolan agar suasana tidak sunyi seperti layaknya bermusuhan aja kan. " Dila katanya kamu baru putus ya?" tanya Hasan mendadak, " hahaha kok pertanyaanmu random banget San, iya bener " jawab Dila. Aku terkejut dengan tiba - tiba ada percakapan itu seperti aku di tampar tanpa bersiap siap, aku menatap geram ke hadapan Hasan dan dia hanya tersenyum. Aku banyak menghindar dari percakapan yang mengarah kesana hingga kami menyelesaikan makan, tak lama Dila dan teman nya berpamitan karena harus melanjutkan kelas nya lagi. " apa seh San jangan kaget - kaget gitu lah" ungkapku dengan sikap Hasan, " eleh udah endak usah kelamaan gas " jawab nya. Setelah itu kami balik karena diriku akan ada pertemuan dengan orang sore ini.

    Sore itu aku berkendara tanpa melihat, karena isi kepalaku hanya terfikir tentang kejadian kejadian kemarin, tentang kata - kata Hasan yang terus terbesit, apakah ini semua jalannya?, apakah aku harus mencoba kembali?. Lelah aku memikirkan itu semua akhirnya sehabis aku bertemu seseorang aku memutuskan untuk mampir ke alun - alun kidul tempatnya orang menikmati kesendiriannya atau berpasangan, karena disana banyak juga penjual jajanan jadi enak saja tempatnya. Saat aku ingin mencari tempat kosong di lapangan yang penuh dengan manusia yang sedang menikmati sore menunggu matahari bertukar tempat dengan bulan ada suara yang jelas dari kanan memanggil namaku. Alangkah terkejutnya aku ternyata yang memanggilku adalah Dila yang entah sedang apa dia sendiri di sini, fikiranku mulai bergerak memikirkan apakah alam semudah ini merestui?, namun ini semudah seperti dulu semua jalan layaknya Tol yang bebas kendala namun fakta ujungnya harus di bayar dengan mahal. Aku tetap bergerak menghampirinya karena tidak mungkin tidak ku hampiri, nanti seperti aku sombong sekali sama teman, " boleh aku duduk sini Dil?" tanya ku. Kami duduk berdampingan membahas sana sini, disitu aku tahu dia sedang menikmati suasana saja. " Lah sendiri aja Dil, btw bukannya kamu dah lama ya dengan pacar kamu kok bisa putus?" tanyaku, aku bingung mengapa bibirku tidak memintah izin pada otakku untuk mengeluarkan kata kata itu, seperti bibirku memiliki pikirannya sendiri. Dila bercerita tentang hubungannya yang hampir beranjak 2 tahun berjalan, namun semua pupus karena pacar nya mendua di belakangnya dan Dila sendiri mengetahui fakta itu secara langsung. Disana aku cuma bisa memberihkan kata - kata untuk menenangkan nya saja karena aku sendiri bingung harus bersikap seperti apa, aku saja sudah lama tidak berpasangan. Kami berbincang kesana kemari, intinya aku hanya berusaha menghiburnya saja agar dia tidak lagi terfikirkan, walau konsep cerita nya berbeda denganku namun rasanya akan sama saja dengan kejadian ku. Hari mulai gelap kami berbincang hingga lupa dengan waktu, Dila ijin untuk balik dan sebagai laki - laki yang gagah perkasa aku tetap menawari mengantar pulang karena kos ku dengan dia searah. Aku mengiringi nya hingga tiba di kos " makasih ya Prama sudah mau nganterin maaf ngerepotin " ungkap Dila, " sama - sama  Dil santai kok, yaudah aku pamit duluan ya " jawabku. Di jalan menuju kembali ke kos aku kembali terfikir, rasa nya aku menikmati obrolan yang terjadi tadi seperti tatapanku tidak pergi dari menatapnya, walau aku sebenarnya ragu ingin mencoba namun mungkin ini jalannya.

    Hari itu sabtu aku coba memberanikan diri untuk mengajaknya keluar kesalah satu kafe yang biasa aku datangi karena disana selain makanannya enak suasanya juga sahdu menurutku. Dering HP ku menunggu notif memanggil ku di angkatnya, tidak memiliki ekspetasi besar aku akan hal tersebut, fikirku kalau dia tidak mau juga tidak apa - apa bagiku dan akan ku urungkan rencanaku. " Assalamualaikum " Dila mengangkat telfon, " Waalaikumsallam, Dil sibuk endak aku mau ajak kamu keluar ke kafe enak nih?" tanyaku. Keraguan terngiang di benakku fikirku mana mungkin dia mau sedangkan kami saja tidak pernah komunikasi secara intim, " eh tumben Prama, yaudah yuk aku juga lagi males di kosan". Mendengar jawabannya membuatku terkejut ekspetasi kepalaku terpatahkan, ya memang benar tidak selamanya hayalan menjadi nyata. Aku mulai bergegas bersiap diri dan menuju tempatnya untuk ku jemput, selama di kendaraan kami hanya diam karena aku sendiri bingung apa yang perlu aku tanyakan. Sesampainya di kafe tujuan aku sebenarnya ingin memantik dengan tema obrolan agar kami bisa berbincang, tapi aku terkejut Dila mendahului bertanya padaku, " tumben Prama kamu ngajak aku keluar? " tanya Dila padaku. Aku bingung alasan apa yang ku harus gunakan agar menjawab pertanyaan nya tanpa membuat dia risi akan adanya diriku, " aku endak perna keluar malam mingguan karena bingung mau keluar sama siapa, dan aku tertarik sama obrolan kita kemarin makanya aku ngajak kamu keluar pengen ngobrol dan diskusi saja " jawabku, yang aku pun bingung harus berkalimat seperti apa untuk menjawabnya. Aku membuat topik perbincangan yang mana agar kita saling mengenal satu sama lain, namun tanpa dia sadari maksudku. sebelum pulang aku bertanya pada Dila tentang pertemuan kita ini apakah dia merasa risi atau senang dengan obrolan tadi, ya tujuanku pengen tau respon dia tentang pertemuan ini sebenarnya, " Dil bagaimana obrolan kita tadi?, kamu risi atau bagaimana? " tanyaku. Dalam angan ku kalau dia menjawab risi maka sepertinya memang belum saat nya untuk mengejar cinta kembali, " endak risi kok, malah senang senang aja aku ngobrol sama kamu seru " jawab Dila. Mendadak aku tersenyum tipis, lagi dan lagi bibirku ini tidak mau bertanya dulu pada pikiran apakah dia boleh tersenyum atau tidak, layaknya seperti aku salah tingkah karena respon itu.

    Hari - hari berikut nya aku mencoba memberanihkan diri untuk berkomunikasi melalui WA ternyata dia merespon dengan baik, akhirnya hari hari ku lalui untuk mencoba mengenalnya dan ingin lebih banyak tahu tentang nya. Aku pun sering mengajak nya menghabisakan waktu berdua, seperti aku mengajaknya bermotor mengelilingi jogja alasanku saat itu ingin membelikannya es cream, tapi sebenarnya tempat es cream nya tidak jauh dari kos nya namun aku mencari alasan saja untuk bisa berkeliling dengannya. Hari demi hari, minggu demi minggu ku habiskan mencari tahu tentangnya, berkomunikasi dengannya, Aku merasa seperti bisa merasakan perasaan yang telah hilang selama bertahun - tahun ini. Apakah aku sudah bisa merasakan cinta lagi?, ataukah ini hanya sekedar hiburan semata dari tuhan untukku?, atau ini atau itu semua tanya terngiang di benakku aku menjadi bingung sendiri dengan perasaan ini, bahagia kembali aku rasakan namun kebimbangan pun mendampingi. Aku takut jalan yang mudah ini akan berakhir sama seperti dahulu mengakibatkan luka yang parah, mungkin kalau akhir cerita ini memang luka aku yakin ini akan menjadi luka yang begitu dalam dan lebar, layaknya penyakit AIDS yang hingga detik ini belum di temukan obat nya. Aku selalu berdoa pada tiap sujudku " Tuhan kalau memang dia obat yang engkau datangkan padaku maka luruskan dia padaku, namun jika dia bukanlah obat melainkan luka belokkan jalannya agar dia tidak sampai padaku ". Aku menikmati semua alur hidupku prinsipku adalah " Jadikan masa lalu sebagai batu loncatan, syukuri Alhamdullilah hari ini, jangan fikirkan hari esok ", itulah yang membuatku berani melangkahkan diri untuk mencoba karena aku percaya pada Tuhanku tidak ada yang tidak mungkin bagi di dunia ini.


Btw ini belum ending ya kawan kawan nanti masi ada lanjutan nya.

Tunggu aja part 2 nya, maka nya terus update di Blog Cerita QT.

Jangan lupa kritiknya di kolom komentar :)

Woke terima kasih........... 

Continue Reading...

Kamis, 04 Juli 2024

CINTA DALAM DIAM

CINTA DALAM DIAM 
  

    Prama diriku biasa di panggil kawan kawan di sekolah, aku seorang anak SMK di salah satu kota kecil di ujung timur nusantara kotaku biasa di juluki kota dolar. Ya julukan yang keren untuk kota kecil ini itu karena kotaku menjadi tempat perusahaan besar di negeri ini. Karena aku anak SMK Kesehatan aku juga aktif di relawan Palang Merah.

    Pagi 17 agustus aku harus bangun pagi - pagi sekali karena aku harus berangkat untuk mengikuti upacara bendera di lapangan kantor bupati. Biasanya aku males bangun pagi sekolah saja aku selalu kesiangan tapi kalau untuk kegiatan aku selalu maksain untuk bangun, ya walau harus mintah ibu ku bangunin juga sih. Aku selalu merasa senang kalau mengikuti kegiatan di relawan selain senang bisa membantu sesama aku pun senang bisa ketemu teman - teman relawan lain.

    Setibanya di lokasi upacara, aku dan teman - teman lain langsung beranjak untuk segera menyesuaikan barisan karena beberapa menit lagi upacara di mulai, namun pandangan mataku teralihkan melihat seseorang yang asing tak pernah ku jumpai dan dia menggunakan seragam relawan yang sama dengan kami. Aku penasaran siapa dia yang baru ku lihat ikut berbaris dengan kami, mataku tak pindah dari memandangnya. Setelah upacara selesai aku tanya pada seniorku yang ku yakin dia pasti tau hal hal di Palang Merah tempatku, karena dia yang paling senior disini. Setelah ku telusuri ternyata dia senior Palang Merah juga namun lama tidak aktif karena harus menyelesaikan kuliah nya menjadi seorang bidan dan namanya Dwi.

    Di sekolah aku terus terbayang Dwi penasaran dengan bagaimana sosok nya, ingin banyak tau tentang dia. Yang ku pikirkan saat ini hanya ingin cepat - cepat mendengar bel pulang sekolah untuk ke markas Palang Merah mencari tahu tentang dia. Selama jam sekolah aku terngiang terus dengan berbagai pertanyaan tentang dia, tak lama aku mendengar suara bel berbunyi tanpa fikir panjang aku langsung bergegas merangkul ranselku dan langsung beranjak menuju markas Palang Merah.

    Setiba nya di markas aku langsung membuka pintu, " Assalamualikum" teriakku pada teman - teman disana, dan aku terdiam seketika, " eh kenapa kau diam " tanya teman- teman ku terheran denganku yang terdiam hampir semenit aku terkaku. Aku tercengang ternyata disitu ada Dwi yang tidak pernah ku lihat dia di markas, jantungku tiba tiba berdetak tak beraturan seperti mau pecah rasanya. Aku berusaha tenang beranjak perlahan menuju mereka dan duduk tanpa memperlihatkan kegugupanku. Erwin seniorku yang aku tanya soal Dwi tiba - tiba langsung memperkenalkanku sama Dwi " Wi ini Prama kemarin katanya mau kenalan sama kamu tu". Kaget seperti semua mengerti isi pikiranku aku kira jalanku mencari tahu tentangnya akan sulit ternyata semudah seperti bolos sekolah.

    Hari itu aku banyak mengobrol dengannya hampir semua tentangnya ku tanya, hingga menjelang magrib bahkan aku pulang di marahin ibu ku karena kesorean, namun tidak sia - sia menuruku karena aku banyak bisa berbincang dengan dia. Hari ini minggu jam satu siang aku beranjak menuju markas dengan harapan dapat bertemu dia disana, tapi saat sampe di sana aku tidak melihat dia sedikit kecewa karena ku pikir dia akan ada di markas. Aku tanya pada kakak senior yang di markas " Tumben tidak ada Dwi? ", " Dwi kan memang jarang kesini, dia kesini kalau ada kegiatan atau kalau pengen aj" jawab Erwin kakak senior ku. Aku jadi berfikir bagaimana cara nya aku bisa ketemu dengan dia kalau menunggu kegiatan aku pun tidak tau kapan lagi ada, atau aku buat aja kegiatan sendiri ngajak mereka. Belum selesai aku memikirkan solusi dari ideku ini kakak Yani staf markas turun dari lantai dua dan ngajak makan - makan katanya ada yang ngundang kita, timbang aku pusing belum nemu solusi ideku aku ikut aja lumayan lagi lapar juga karena tadi pergi lupa makan mana lagi zonk tidak sesuai bayanganku.

    Tiba di lokasi tempat makan - makan aku terheran tempat siapa kita datangi karena ini lokasinya di TNI Angkatan Laut, " kak ini tempat siapa, anak Palang Merah kok aku endak pernah tau ya" tanyaku pada kak yani. Sembari turun dari mobil kak Yani menjawab pertanyaanku dan seketika aku terkejut lagi ternyata bayanganku tidak gagal " kita di rumahnya Dwi mama nya masak besar manggil kita, kan kakak kenal baik sama mama nya Dwi" jawab kak Yani. Aku hanya tersenyum hingga masuk kerumahnya entah apa lagi cara yang bisa ku lakukan untuk menggambarkan perasaan bahagiaku ini, aku berfikir apakah semulus ini jalanku untuk mengejarnya. Aku terbuaih dengan suasana berbincang dengan Dwi maupun orang tuanya, tertawa akan hal yang orang lain tidak anggap lucu tapi aku tidak perduli dengan itu semua di pikiranku hanya menikmati waktu ini dengan sebaik mungkin, hingga aku terlena hari sudah larut hingga malam tiba aku teringat harus pulang atau kalau tidak bisa di marah ibuku habis habisan.

    Setelah hari itu hari demi hari ku jalani dengan semangat dan bahagia terlihat aku tidak lagi waras karena senyum dimana mana, aku pun heran mengapa aku begini apakah ini yang katanya cinta. Namun aku tidak berani mengungkap kan rasa ini kupendam sendiri takut saat perasaan ini aku keluarkan malah membuatku jauh dengannya " ya kalau keterima tapi kalau di tolak malah pergi dia" pikirku. Aku berusaha mencari solusi isi pikiranku pada hari itu kegiatan apa yang bisa ku buat untuk bisa ketemu dia, dan rekreasi jawabannya. sepulang sekolah aku bergegas ke markas untuk menyampaikan ideku ke kak Yani karena dia staf di markas jadi pasti bisa menggerakkan teman - teman lain pikirku. Ideku di terima dan minggu berikutnya saat libur sekolah aku dan teman - teman markas berangkat rekreasi, sesuai rencana juga Dwi ikut dalam kegiatan itu di perjalanan aku sudah mengatur duduk ku agar bisa bersebelahan dengan dia. Kami banyak bercerita selama perjalanan, banyak membahas ini itu karena aku masi SMK aku banyak aja tanya tentang dunia kesehatan mahasiswa dulu aku tidak ingat entah apa yang dia ceritahkan tapi aku hanya memandang wajahnya dengan kebimbangan di dalam pikirku " apa aku ungkapkan aja ya isi hatiku, ah tapi jangan lah aku tidak mau moment ini hilang". Mobil yang kami gunakan rekreasi itu mobil yang pintu samping nya di buka dengan cara di geser, ya namanya anak remaja aku paling senang duduk di samping dengan pintu posisi terbuka, Dwi duduk di belakangku dengan posisi bangkunya lebih tinggi dengan aku. Posisi kami duduk depan belakang dan kepalaku terasa di penggang aku berbalik kepala dan kulihat dia yang memegang dan mengusap - usap kepalaku selama perjalanan itu.

    Hari itu adalah momen yang sangat membahagiakan bagiku rasanya ingin terus di momen itu. Tiga bulan kemudian aku lulus dari SMK, dan aku merasa bisa fokus mengejar dia hari demi hari minggu demi minggu aku jalani dengan terus membuat rencana agar bisa terus dekat dengan dia. Hari itu di rumah aku di ajak ngobrol dengan ibu dan ayah ku tentang masa depanku apakah aku kuliah atau kerja. Aku memperhitungkan dengan matang semua itu, kalau aku kuliah akan jauh dari dia, tapi kalau aku kerja bagaimana dengan cita citaku yang ingin menjadi seorang bupati. Matematika ku berjalan di pikiran, walau aku jelek matematika ku paksa berfikir dengan baik hingga aku akhirnya menemukan solusi yang tepat dan di dukung orang tuaku " bu pak aku mau kuliah di jogja". Kuliah di jogja adalah impianku karena itu kota dengan julukan kota pelajar dan aku ingin mengejar cita cita ku berawal dari sana, pikirku aku harus berjuang mengejar sarjanaku dan setelah itu aku balik ke kota ini untuk memberanihkan diriku untuk melamarnya. 

    Sebulan kemudian aku berpamitan dengan teman - teman markas ke kak Yani, kak Erwin, dan yang lain pun aku berpamitan tak lupa dengan Dwi. Berat rasanya seperti tidak ingin kemana - mana, tidak ingin pergi dari kota ini, tidak ingin jauh dari dia namun aku sadar ini semua perjuanganku untuk bersama dia selamanya. Hari keberangkatanku pun tiba di bandara aku dihantarkan oleh orang tua ku dan semua teman - temanku haru terjadi hari itu, air mataku menetes seperti tak terbendung aku berat meninggalkan mereka, aku berat meninggalkan orang tuaku, aku berat meninggalkan Dwi. Langkah demi langkah ku menuju pesawat menggambarkan jumlah tetesan air mata perpisahan ini, Di dalam pesawat aku terus terpikir beratnya perpisahan ini namun aku mencoba meyakinkan pikiranku  bahwa ini  yang terbaik, hingga akhirnya aku tiba di Jogja.

    Satu bulan pertama aku berusaha beradaptasi dengan keadaan di jogja, dengan kebiasaan yang ada disini. Waktu itu bulan kedua tepat bulan Desember aku di jogja dengan semangat mengejar pendidikan dan hal hal yang aku ingin kejar nantinya, menikmati pagi awal bulan itu HP ku berdering ternyata WA masuk bertuliskan Dwi, senang tak terkira orang yang aku ingin perjuangkan menanyakan kabarku. Komunikasi kita cukup panjang hingga harus terpotong karena dia harus lanjut bekerja, ku nikmati kopi pagi itu rasa nya sangat nikmat berbeda dengan kopi di hari - hari sebelumnya. Namun ku kira semua perjalanan mudahku dulu hingga saat aku di jogja mengejarnya akan selalu mulus tak terhadang, ternyata itu semua beruba. Tiga minggu setelah dia mengubungiku aku di telfon kak Yani dengan video call kita begitu senang saling komunikasi walau jarak memisahkan, tak lama kak yani tiba - tiba terdiam, pikir kak Yani diam karena suara bising di HP yang terdengar pikir ku dia di tempat ramai " Prama aku mau liatin sesuatu " tanya kak Yani, " apa kak ada hal baru disana kah?" tanyaku  dengan penasaran. 

    Lalu saat kak Yani membalikkan kamera aku tercengan terdiam tak berdaya, bulu kuduk ku berdiri, badan ku gemetar seketika. Pada saat itu aku sedang nongkrong bersama teman - teman kampusku, video call ku matikan aku langsung berdiri dan pamit balik ke kos an ku. Di kos aku langsung berbaring di kasurku memakai heatset dan memutar semua lagu yang ku punya. Satu demi satu air mataku menetes mengingat isi video call tadi yang mana suara gemuru yang tadi adalah gemuru suara pernikahan Dwi dan calon suaminya, hancur rasanya semua rencana yang ku buat mungkin ini ledakan yang lebih dasyat di banding bom atom di Hiroshima maupun Nagasaki. Aku berusaha memejamkan mataku dengan derasnya air mengalir dari mataku dan berharap bangun nanti semua ini adalah mimpi.

    Setahun berlalu dari kejadian itu aku pikir pagi itu aku bangun semua adalah mimpi ternyata itu lah nyatanya kehidupan yang ku terima, setahun berlalu aku merasa tak terima ini semua terjadi. Hampir tiap hari kak Yani maupun Teman - Teman disana menghubungiku tapi ku hiraukan hingga saat ini, aku tau mereka ingin menghiburku tapi tidak akan ada hiburan yang  bisa membuatku tersenyum. Pikirku jahat aku Harus menjauhi teman - temanku akhirnya aku memutuskan menghubungi kak Yani untuk memintah maaf akan kejadian setahun lalu. Mungkin ini semua sudah jalanku dan aku harus terus hidup untuk tujuan lainku, " kak Yani apa kabar?" tanyaku saat telfon di angkat, " baik Prama kamu gimana?, lama endak telfon kakak" jawab kak Yani. Kami mengobro tentang ini dan itu, aku memintah maaf dan kak yani menceritahkan kejadiaan seminggu sebelum pernikahan Dwi kak Yani ternyata telah memberitahu Dwi kalau aku menyukainya Dwi kaget dan bertanya kenapa tidak memberitahunya?, kenapa baru saat dia ingin menikah baru tahu?. Kak Yani memberitahu semua alasanku karena dulu aku pernah cerita ke kak Yani alasanku kenapa tidak berani mengungkapkan. Aku pun menyesal akhirnya tidak pernah melepas rasa ini hingga aku harus merelahkan dia bersanding dengan yang lain, karena kata kak Yani Dwi pun memiliki perasaan yang sama.

    Ya itu semua sudah berlalu aku terus berusaha melanjutkan hidupku mengejar semua cita cita yang ingin ku gapai. Dan dia?, Dwi sekarang sudah berkeluarga dia sudah memiliki anak cewek yang lucu, sekarang kita masi berkomunikasi namun layaknya adek dan kakak. Aku selalu berharap dapat mengulang waktu dan ingin melepas rasa ini apapun hasilnya bukan malah membawahnya hingga menjadi luka, benar kata orang penyesalan datang belakangan karena kalau di depan pasti pendaftaran.

    Mungkin hari esokku akan cerah, aku harus belajar dari semua yang terjadi ini..........

     

    
Continue Reading...

Blogroll

About